May 25th, 2013

Percaya, ini nyata

ayuprissa:

gilangkr:

Suatu hari nanti, kalian semua akan jatuh cinta tanpa dibuat-buat.

Tanpa perasaan posesif kekanak-kanakan atau rasa ingin pamer kasih sayang yang berlebihan.

Akan kalian temui seseorang yang membuat kalian jatuh hati tanpa alasan.

Yang membuat kalian tidak takut pada jutaan omong kosong soal sakitnya patah hati.

Yang membuat kalian sudi menjadi diri kalian sendiri.

Tidak dengan ucapan manis atau perilaku yang berpura-pura.

Kalian akan jatuh cinta dengan seadanya, tapi juga dengan segalanya.

Kalian akan jatuh cinta dan berani mempertanggungjawabkannya.

Bukan dengan pujian palsu atau rasa kagum sesaat.

Tapi dengan tatap mata dan rasa saling percaya.

Suatu waktu nanti akan datang seseorang yang datang dan membuat kalian jatuh cinta tanpa alasan,

Yang akan kalian jadikan prioritas,

Bukan sekedar kalian banggakan di media sosial tapi kalian bohongi di kehidupan nyata.

Suatu hari nanti, kalian akan bertemu seseorang yang akan mendengarkan cerita kalian di sisa hidupnya.

Yang akan membuat kalian paham benar apa itu arti kata sayang.

Yang membuat kalian tidak sabar untuk menghabiskan hari tua bersama, berdua, tanpa ragu, tanpa sempat terpikir untuk berpindah ke lain hati.

ayuprissa:

 

chou-chouu:

Doug Perrinecaptured these stunning photographs in the Maldives. The particular location (Vaadhoo Island) has a concentrated population of bioluminescent phytoplankton. Bioluminescence is a natural chemical reaction which occurs when a micro-organism in the water reacts with oxygen. When washed ashore by the tides, the phytoplankton’s chemical energy is turned into light energy, illuminating the waves.

Tidur pakai tenda dan minyak kayu putih, sambil makan mi instan kayaknya udah paling surga ya di sini.

(Source: mydarkenedeyes)

Tulisan : Dewasa, Kasihan Sekali Engkau

kurniawangunadi:

Orang yang berpikir sok dewasa, mengatakan bahwa dewasa itu tidak lagi bertingkah seperti anak-anak.

Kasihan sekali engkau duhai orang dewasa, yang menganggap dewasa diukur dari tingkah laku. Mari sedikit aku ajak jalan-jalan.

Kau tau, aku masih bermain dengan mobil-mobilan, membangun kota miniatur. Bercakap sendiri memerankan aneka peran. Aku artis profesional bagi imajinasiku sendiri bukan?

Aku masih mengumpulkan boneka pokemon satu demi satu, kadang pula aku berebut dengan anak-anak. Hei aku laki-laki, bukan masalah besar kan menyukai pokemon ? :)

Duduk bersila di toko mainan memperhatikan satu demi satu mainan disana. Bercengkarama dengan anak-anak tentang mainan-maianan yang “kami” sukai. Itu hal yang sangat menyenangkan.

Kasihan sekali orang-orang dewasa yang mengatakan bahwa dewasa itu tidak lagi bertingkah seperti anak-anak.

Pernahkan kalian para manusia sok dewasa memperhatikan anak-anak yang bermain?

Untuk sebuah permainan yang menurut orang “dewasa” sangat sederhana. Anak-anak mencurahkan seluruh tenaga dan perhatiannya kepada permainan tersebut seolah-olah tenaganya tiada habis.

Eh apa yang kamu lakukan orang dewasa? Duduk bermalas-malas sambil online? fufufufuu

Kasihan sekali orang-orang dewasa yang terjebak pada rutinitas, kehilangan waktu menyenangkan.

Mari aku ajak jalan-jalan ke toko mainan, disini ada segudang rekam jejak masa lalu kita. Kita pernah menjadi anak-anak bukan?

Pernahkah kalian bertanya, mengapa kita harus membuang sifat alami kita dulu sebagai anak-anak. Apa kamu malu untuk bermain seperti anak-anak?
Mengapa kalian harus membuang sifat kekanak-kanakan kalian yang alami demi dikatakan orang sebagai orang dewasa?

Kalian tega membunuh sisi lain dari diri kalian sendiri, biarkanlah ia tumbuh dan tetap menjadi bagian diri kita. Karena ingatlah, dewasa bukanlah soal apa yang dinilai orang lain.

Selama hidup kita akan menjadi seorang anak, dan kelak kita akan memiliki anak, cara terbaik memahami anak-anak adalah dengan menjadi anak-anak. Jangan pahami anak-anak dengan cara orang dewasa.

Selamat berkontemplasi :)

Hongpimpa Alaium Gambreng (sansekerta) : Dari Tuhan kembali ke Tuhan, mari kita bermain.

Bandung, 14 Mei 2013

Jangan gugup dan bingung ketika diberi pensil warna dan kertas gambar ya, itulah sedikit dari sifat anak-anak yang telah kalian bunuh :)

Mari kembali bermain.

(via writingnothing)

Reaksi Lu Saat Pembagian Kelompok

fuckyeahmahasiswa:

“Hai, gw ikut kelompok kalian ya. Tapi gue cuma bisa bantu dikit. Gue nggak terlalu jago. Trus, gue sibuk. Gue yakin kalian pasti lebih hebat. Gue bantu do’a dan semangat.”

Reaksi:

image

(Source: makemestfu, via jerapahtertawa)

October 20th, 2012

malam rebah
sunyi terhibah
memori tentang kita mulai melemah

aku diam
langit menyapa dengan muram
guntur mulai menggeram
lalu turun hujan semalam

inilah mampuku
hanya bisa merangkai kalimat semu
di luar duniaku
aku hanya bisa membisu

hei sobat
kita mulai bersekat
bertegur sapa pun tak sempat
padahal dulu kita dekat

mungkin dunia kita sudah berbeda
obrolan kita sudah berjeda
aku bukan lagi orang yang sama

mungkin ini salahku
atau salah duniaku
entahlah aku tak tahu
bahkan aku tak mengerti pikiranku

dan disini ku masih terjaga
menyusuri memori yang telah berjelaga
menunggu hingga malam tiada

pada akhirnya
ku tetap menunggu
agar aku berada di waktu dan tempat yang tepat
untuk sahabatku

tak pernah di waktu dan tempat yang tepat

by @elsayoelz

20102012

October 18th, 2012
I have the deepest affection for intellectual conversations. The ability to just sit and talk. About love, about life, about anything, about everything. To sit under the moon with all the time in the world, the full-speed train that is our lives slowing to a crawl. Bound by no obligations, barred by no human limitations. To speak without regret or fear of consequence. To talk for hours and about what’s really important in life.